DI PEMBUANGAN ITU, MEREKA MENUA DAN MATI

– Inspirasi dari Film Eksil (2024)

Denny JA

Setelah lebih dari lima puluh tahun terbuang dari Indonesia, ia menua dan mati. Sering dikatakannya, ia rindu kampung halamannya, Indonesia.

Di film itu, ketika peti jenazahnya diangkat, di satu gereja di Belanda, terdengar lagu Indonesia Pusaka. yang dinyanyikan beberapa remaja dengan iringan gitar:

“Indonesia tanah air beta.

Pusaka abadi nan jaya.

Indonesia sejak dulu kala.

Tetap dipuja-puja bangsa.

Di sana tempat lahir beta.

Dibuai, dibesarkan Bunda.

Tempat berlindung di hari tua.

Sampai akhir menutup mata.

Ironi situasinya dengan lirik lagu. Karena persoalan politik di tahun enam- puluhan, membuatnya tak menutup mata di negara asalnya: Indonesia.

Air mata saya pun menetes. Ikut merasakan suasana puluhan terbuang dari tanah air tercinta Indonesia, hanya karena persoalan politik di masa lalu.

-000-

Ini film dokumenter karya Lola Amaria. Sejak tahun 2010, empat belas tahun lalu, ia sudah melakukan riset. Tekun ia mewawancarai dan membuat dokumentasi sekitar 10 warga Indonesia yang terbuang ke negara lain, sejak tahun 1960-an.

Itu era heboh PKI. Film ini berfokus pada sekelompok mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di luar negeri saat peristiwa G30S terjadi.

Di tengah kekacauan politik di tanah air, mereka dicap sebagai simpatisan PKI dan diputus dengan administrasi pemerintahan Indonesia. Film ini mengikuti perjalanan mereka di pengasingan.

Mereka dipaksa beradaptasi dengan kehidupan baru di negara asing, sambil terus berjuang untuk kembali ke tanah air. Kewarga- negaraan mereka tak jelas. Lalu mereka berwarna negara lain: Belanda, Swedia, Perancis, Rusia, dan lain sebagainya.

Ada kisah ketika salah satu dari mereka jatuh cinta dan memadu kasih. Ternyata sang kekasih agen pengintai yang disusupkan untuk mencatat dunia para eksil.

Ada kisah seorang eksil yang rumahnya penuh buku dan foto kopi. Ia kumpulan aneka berita dan dokumen seputar kasus politik 60-an. Suatu hari ia meyakini dokumen yang difoto-kopinya akan berbicara.

-00”-

Film ini menghadirkan beberapa tokoh sentral, di antaranya: Asahan Alham Aidit, Hartoni Ubes, Sarjio Mintardjo, dan I Gede Arka.

Pembuat film perlu diapresiasi karena ia berani dan berhasil merekam satu babak sejarah kelam Indonesia. Ekspresi ceritanya menyentuh karena personalisasi peristiwa itu dari pengalaman pribadi para warga yang terbuang.

Sejak awal, saya sudah tersentuh dengan puisi yang dibuat oleh Chalik Hamid, seorang eksil yang juga terbuang dari Indonesia.

“Kuburan kami ada di mana-mana, kuburan kami berserakan di mana-mana, di berbagai negeri, di berbagai benua.”

-000-

Yang dihadirkan di film Eksil itu hanya puncak gunung es dari dunia yang jauh lebih besar, yang belum semua tergali.

Memang tak tersedia jumlah yang pasti seberapa banyak mahasiswa Indoneia di luar negeri saat itu. Seberapa banyak sebenarnya jumlah warga Indonesia yang tidak bisa kembali. (1)

Tapi di awal 1960an, ribuan orang dikirim ke luar negeri oleh Bung Karno untuk sekolah. Ribuan! Mereka mahasiswa terpilih, sebagai “utusan Indonesia.”

Akibat pergolakan politik di tanah air, dan dicabutnya paspor, mereka “mengembara” dari satu negara ke negara lain. Mereka juga ketakutan karena isu akan dipulangkan ke Indonesia dan dipenjara.

Mereka memang bebas di negara lain, tapi tetap serasa berada dalam penjara karena ketidak pastian. Ketika paspor mereka dicabut, kewarga- negaraan Indonesia mereka dilepas, itu siksaan eksistensial tersediri. Mereka dipisahkan dengan identitas negara tempat mereka dilahirkan.

Itulah yang ada. Cinta tanah air tak hilang, walau terbuang jauh di negeri seberang, puluhan tahun. Walau saat itu mereka berbeda keyakinan politik dengan pemerintah yang sedang berkuasa, cinta tanah air tak sirna.***

Jakarta, 26 Feb 2024

CATATAN

1. Jumlah Eksil Indonesia di luar negeri

detikNewshttps://news.detik.com › sekitar-1-5…Sekitar 1.500 Eksil Tragedi 1965 Tak Bisa Pulang ke Indonesia – detikNews

***Dibolehkan mengutip dan menyebarkan tulisan di atas.

Latest

ANTRI TIGA JAM DI BANDARA HOUSTON DAN MACETNYA POLITIK AMERIKA SERIKAT

Oleh Denny JA Pemerintah Federal Amerika Serikat dan Kongresnya sedang...

PHYSICAL ARTIFICIAL INTELLIGENCE, GEOTHERMAL DAN POTENSI INDONESIA MENJADI PEMAIN DUNIA

Hari Keempat CERAWeek, Pertemuan Energi Dunia, di Amerika Serikat,...

BERLOMBA MENJADI PIONIR ENERGI MASA DEPAN

Hari Ketiga CERAWeek, Pertemuan Energi Dunia, di Amerika Serikat,...

PERANG IRAN-ISRAEL DAN RAPUHNYA PASAR MINYAK GLOBAL

Hari Kedua CERAWeek, Pertemuan Energi Dunia, di Amerika Serikat,...

Newsletter

Don't miss

ANTRI TIGA JAM DI BANDARA HOUSTON DAN MACETNYA POLITIK AMERIKA SERIKAT

Oleh Denny JA Pemerintah Federal Amerika Serikat dan Kongresnya sedang...

PHYSICAL ARTIFICIAL INTELLIGENCE, GEOTHERMAL DAN POTENSI INDONESIA MENJADI PEMAIN DUNIA

Hari Keempat CERAWeek, Pertemuan Energi Dunia, di Amerika Serikat,...

BERLOMBA MENJADI PIONIR ENERGI MASA DEPAN

Hari Ketiga CERAWeek, Pertemuan Energi Dunia, di Amerika Serikat,...

PERANG IRAN-ISRAEL DAN RAPUHNYA PASAR MINYAK GLOBAL

Hari Kedua CERAWeek, Pertemuan Energi Dunia, di Amerika Serikat,...

REVOLUSI ARTIFICIAL INTELLIGENCE DAN KEMBALINYA NUKLIR SEBAGAI PENOPANG ENERGI

Hari Pertama CERAWeek, Pertemuan Energi Dunia, di Amerika Serikat,...

ANTRI TIGA JAM DI BANDARA HOUSTON DAN MACETNYA POLITIK AMERIKA SERIKAT

Oleh Denny JA Pemerintah Federal Amerika Serikat dan Kongresnya sedang bertarung. Tapi saya dan ratusan warga negara lain yang kebetulan sedang berkunjung ikut terkena getahnya. Tiga...

PHYSICAL ARTIFICIAL INTELLIGENCE, GEOTHERMAL DAN POTENSI INDONESIA MENJADI PEMAIN DUNIA

Hari Keempat CERAWeek, Pertemuan Energi Dunia, di Amerika Serikat, 23–27 Maret 2026 Oleh Denny JA Di kedalaman bumi yang tak pernah tersentuh cahaya, tersimpan panas yang...

BERLOMBA MENJADI PIONIR ENERGI MASA DEPAN

Hari Ketiga CERAWeek, Pertemuan Energi Dunia, di Amerika Serikat, 23–27 Maret 2026 Oleh Denny JA Ada kalanya sebuah revolusi lahir bukan dari laboratorium paling canggih. Bukan...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here