Oleh Denny JA
(2019, di Ohio, USA, anak 13 Tahun Dirawat di Rumah Sakit Karena Kecanduan Internet)
David, termenung di depan layar.�Semestanya menyempit ke dalam layar kecil ponsel.
Dunianya mengerucut menjadi segenggam kaca.
�Pelukan digantikan emoji.�Suara tawa teredam oleh bisu algoritma.
David melarikan diri ke semesta layar.�Di sana, piksel menjadi penjaga gerbang.�Dunia nyata tak lagi mampu�menjangkau hatinya.
�Cahaya biru menari di wajahnya, pucat, seperti bulan yang muram.
�Matanya kosong, mencari keajaiban yang tak pernah ada.
“David, sudah larut.�Matikan dulu ponselmu,” bisikku lembut.�Tapi ia diam.
Suaraku hanyalah bayang angin.
�Tangannya menggulir layar, menghapus jejak dunia nyata.�Ia menjauh dari meja makan, dari keluarga, dari kakak dan adiknya.
Aku ingat masa itu.�Dulu, sebelum ponsel itu menjauhkan David dari kami.
�Di lapangan, ia berlari mengejar bola.�Tawanya pecah, seperti matahari yang tak pernah redup.�Pelukannya kecil, tapi hangat menjadi api unggunku di malam dingin.
�Namun kini, David berubah.�Ia hanya bayangan yang melintas di lorong,�Hilang, tenggelam dalam lautan tak kasat mata.
Kami kehilangan David.�Bukan ia ditelan badai.�Bukan ia dimakan laut yang ganas.�David hilang karena arus tak terlihat.
�Ia ditelan gelombang digital tanpa tepi.�Ia hilang di dalam ponsel.�Ia mengurung diri,�hanya bicara pada layar kaca.�Membangun tembok tak terlihat di antara kami.
Lalu datang pagi-pagi yang sunyi.�Tugas sekolahnya tertinggal di sudut-sudut waktu.
�Matanya merah,�digerogoti malam-malam tanpa tidur.�Tubuhnya layu.�David kini pohon yang kehilangan akarnya.
�Oh, anakku menghilang sudah.�Ia menjadi asing,�Seperti cermin retak yang tak lagi memantulkan dirinya sendiri.
Kami mencoba melawan arus itu.�Mematikan Wi-Fi, menyembunyikan ponselnya.�Tapi ia marah, seperti binatang terluka.
�Ia berteriak, memecahkan barang.�Meninggalkan kami dalam kepedihan yang bisu.�Cinta kami tak cukup untuk menariknya kembali.
�Akhirnya, kami menyerah.�David butuh lebih dari sekadar pelukan kami.�Kami membawanya ke pusat rehabilitasi.�Ia dirawat khusus,�di rumah sakit.
Kami hanyalah pelaut di tengah badai,�melawan ombak digital yang tak mengenal pantai.
�David semakin jauh,�dan kapal�kami tak mampu mengejarnya.
�Di sana, di rumah sakit,�layar dimatikan,�Hidup perlahan dinyalakan kembali.
�David belajar menghirup udara tanpa Wi-Fi.�Ia mencoba melukis,�Garis-garisnya gemetar, tapi penuh asa.
�“Ini perjalanan panjang,” kata terapisnya.
“Tapi ia bisa pulih.”
�Aku melihat ia bermain bola lagi.�Tawanya kecil, seperti lilin yang baru menyala.�Namun, aku tahu luka itu tetap ada.
�Seperti bayangan yang bersembunyi di sudut pikirannya.�Setiap kali ia melihat layar,�Aku takut ia akan jatuh lagi ke jurang itu.
�Internet tetap ada, seperti laut yang tak pernah kering,�Namun David pulang, dengan langkah kecil menuju terang.
Malam ini, ia duduk di sebelahku.�Tangannya menggenggam tanganku, hangat, nyata.�“Aku ingin belajar kembali, Bu,” katanya lirih.
�Dan aku tahu, masih ada harapan.�Di ujung cahaya layar yang perlahan meredup,�ada dunia yang menanti, memeluknya kembali.
David menjadi cermin.�Kita semua kini pelaut dalam badai digital.�Ada yang selamat.
Ada yang tenggelam.
Kupeluk David, anakku.�Kukecup keningnya.�Kuhembuskan doa,�agar ia kembali,�kembali memeluk hidup yang nyata.
“Aku merindukan tawa kecilmu, nak, seperti hujan pertama yang menyentuh tanah kering.
Kemarin kau tenggelam dalam layar, seperti ikan yang lupa bahwa lautnya adalah rumah.”**
Jakarta, 7 Desember 2024
CATATAN
(1) Puisi esai ini adalah fiksi diinspirasi kisah nyata
Kisah Bocah 13 Tahun Dirawat karena Kecanduan Internet