MALAM TERAKHIR DI WARSAWA

(April – Mei 1943, lima puluh enam ribu Yahudi yang terkurung di Ghetto Warsawa memutuskan untuk melawan Nazi hingga tetes darah terakhir.)

-000-

Di bawah nyala lilin yang gemetar,

mereka membagi roti terakhir,

roti yang lebih banyak air mata daripada gandum.

Mereka juga membagi ketakutan, doa, dan ingatan yang tak akan bertahan esok pagi.

Dengan tangan gemetar, mereka menulis pesan terakhir.

Bukan untuk seseorang, bukan untuk kekasih—

tetapi untuk waktu yang akan terus berjalan tanpa mereka.

Seorang bocah menggambar di dinding,

sebuah rumah, sebuah pohon, jendela terbuka.

Dunia yang sebentar lagi tak lagi ada untuknya.

-000-

Di jantung Warsawa yang tak lagi berdetak,

matahari terbenam tanpa perpisahan,

jendela-jendela buta menatap kehampaan,

di jalanan, abu lebih banyak dari batu.

Di bawah tanah, di lorong-lorong dingin,

mereka duduk dalam diam.

Bukan diam yang hampa,

tetapi diam yang lebih tajam dari pedang.

Tangan-tangan luka saling menggenggam,

mata yang letih saling mencari jawaban.

“Apakah besok kita masih bisa melihat pagi?”

bisik seorang gadis kepada ibunya.

Ibunya tersenyum, tanpa janji.

Di sudut lain, seorang lelaki berbisik,

“Kita tidak akan menyerah, bukan?”

Tidak ada yang menjawab,

tetapi genggaman tangannya cukup memberi arti.

Malam ini panjang, lebih panjang dari waktu.

Malam ini abadi,

karena fajar tak akan pernah datang.

-000-

Mordechai berdiri, suaranya setenang batu nisan.

“Besok, kita akan bertahan.

Atau kita akan menjadi abu.

Tapi kita akan memilih cara kita sendiri untuk mati.”

Seorang wanita tua menatap langit penuh asap.

“Dulu ada bintang-bintang di sana.”

Dan sepasang kekasih berjanji:

“Jika kita bertemu lagi,

biarlah di tempat yang tidak ada perang.”

-000-

Fajar tiba tanpa warna.

Dari kejauhan, suara sepatu bot menghantam bumi.

Dunia bergetar.

Ledakan pertama datang seperti lonceng kematian.

Bunker pertama hancur.

Di bawah tanah, seorang ibu menutup mata anaknya.

“Tidurlah, sayang.

Mungkin di mimpi, kita akan bebas.”

Di luar, Mordechai mengangkat pistol terakhirnya.

Pelurunya bukan untuk musuh,

tetapi untuk langit yang tidak lagi mendengar doa.

Sekali tembak.

Lalu bayangan menelannya.

Dan Warsawa tenggelam dalam debu.

Hanya sunyi yang tersisa.

-000-

Tetapi malam terakhir di Warsawa,

bukan malam kekalahan.

Itu malam keberanian

menjadi puisi yang tak akan pernah mati.

Sejarah mencatat mereka bukan sebagai korban,

tapi sebagai pejuang,

memilih berdiri di ujung hidup,

tanpa tunduk.

Dan di langit yang hitam pekat,

bintang-bintang yang hilang

mungkin sedang menangis.

Ledakan itu merobek malam,

mengubur 56 ribu tubuh dalam abu.

Tetapi mereka tidak lenyap.

Mereka menjadi bisikan yang menghantui lembaran sejarah.

Jakarta, 21 Februari 2025

CATATAN

(1) Puisi esai ini adalah dramatisasi tentang 56 ribu Yahudi Polandia yang memilih melawan sekuat yang bisa, memilih mati dalam pertempuran dibanding mati di kamp gas beracun.

https://www.nationalww2museum.org/war/articles/warsaw-ghetto-uprising?fbclid=IwY2xjawIrhYxleHRuA2FlbQIxMAABHc5fvv59JYXaEfls_D3SAq9OsFAlPQPVbLas7lKgHCjOEPwWCnAeJaBLpg_aem_KOKIgHs56iMQO_WWydMLOQ

Latest

ANTRI TIGA JAM DI BANDARA HOUSTON DAN MACETNYA POLITIK AMERIKA SERIKAT

Oleh Denny JA Pemerintah Federal Amerika Serikat dan Kongresnya sedang...

PHYSICAL ARTIFICIAL INTELLIGENCE, GEOTHERMAL DAN POTENSI INDONESIA MENJADI PEMAIN DUNIA

Hari Keempat CERAWeek, Pertemuan Energi Dunia, di Amerika Serikat,...

BERLOMBA MENJADI PIONIR ENERGI MASA DEPAN

Hari Ketiga CERAWeek, Pertemuan Energi Dunia, di Amerika Serikat,...

PERANG IRAN-ISRAEL DAN RAPUHNYA PASAR MINYAK GLOBAL

Hari Kedua CERAWeek, Pertemuan Energi Dunia, di Amerika Serikat,...

Newsletter

Don't miss

ANTRI TIGA JAM DI BANDARA HOUSTON DAN MACETNYA POLITIK AMERIKA SERIKAT

Oleh Denny JA Pemerintah Federal Amerika Serikat dan Kongresnya sedang...

PHYSICAL ARTIFICIAL INTELLIGENCE, GEOTHERMAL DAN POTENSI INDONESIA MENJADI PEMAIN DUNIA

Hari Keempat CERAWeek, Pertemuan Energi Dunia, di Amerika Serikat,...

BERLOMBA MENJADI PIONIR ENERGI MASA DEPAN

Hari Ketiga CERAWeek, Pertemuan Energi Dunia, di Amerika Serikat,...

PERANG IRAN-ISRAEL DAN RAPUHNYA PASAR MINYAK GLOBAL

Hari Kedua CERAWeek, Pertemuan Energi Dunia, di Amerika Serikat,...

REVOLUSI ARTIFICIAL INTELLIGENCE DAN KEMBALINYA NUKLIR SEBAGAI PENOPANG ENERGI

Hari Pertama CERAWeek, Pertemuan Energi Dunia, di Amerika Serikat,...

ANTRI TIGA JAM DI BANDARA HOUSTON DAN MACETNYA POLITIK AMERIKA SERIKAT

Oleh Denny JA Pemerintah Federal Amerika Serikat dan Kongresnya sedang bertarung. Tapi saya dan ratusan warga negara lain yang kebetulan sedang berkunjung ikut terkena getahnya. Tiga...

PHYSICAL ARTIFICIAL INTELLIGENCE, GEOTHERMAL DAN POTENSI INDONESIA MENJADI PEMAIN DUNIA

Hari Keempat CERAWeek, Pertemuan Energi Dunia, di Amerika Serikat, 23–27 Maret 2026 Oleh Denny JA Di kedalaman bumi yang tak pernah tersentuh cahaya, tersimpan panas yang...

BERLOMBA MENJADI PIONIR ENERGI MASA DEPAN

Hari Ketiga CERAWeek, Pertemuan Energi Dunia, di Amerika Serikat, 23–27 Maret 2026 Oleh Denny JA Ada kalanya sebuah revolusi lahir bukan dari laboratorium paling canggih. Bukan...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here